Kalau kamu pernah melihat orang Jepang memberi salam dengan cara membungkuk, itu disebut ojigi (お辞儀). Sekilas terlihat sederhana—hanya menundukkan badan. Tapi sebenarnya, di balik gerakan itu tersembunyi aturan, etika, dan makna yang lebih dalam. Di Jepang, cara membungkuk bisa menunjukkan rasa hormat, permintaan maaf, terima kasih, bahkan penyesalan yang sangat dalam. Menariknya, ojigi tidak hanya memiliki satu jenis saja. Tingkat kedalaman membungkuk menunjukkan seberapa besar rasa hormat yang ingin diberikan.
Jenis pertama adalah eshaku (会釈). Ini adalah bungkukan ringan sekitar 15 derajat. Biasanya dipakai untuk mengucapkan salam kepada teman, rekan kerja, atau orang yang sudah dikenal. Gerakannya cepat namun tetap santai, tepat untuk situasi yang tidak resmi. Bayangkan kamu bertemu dosen di koridor kampus—cukupkah hanya dengan mengucapkan “eshaku”, atau apakah kamu perlu menggunakan bahasa yang lebih sopan?
Selanjutnya ada keirei (敬礼). Ini lebih formal, dengan sudut sekitar 30 derajat. Keirei digunakan ketika menyapa bos, pelanggan, atau dalam situasi bisnis. Gerakannya lebih perlahan dan dilakukan dengan postur tubuh yang rapi. Di dunia kerja di Jepang, keirei sering digunakan sebagai cara menunjukkan sikap profesional. Jadi, bukan hanya ucapan yang sopan, tetapi juga gerak badan yang sopan.
Yang lebih dalam lagi adalah saikeirei (最敬礼). Ini adalah bungkukan sekitar 45 derajat atau lebih. Biasanya digunakan untuk menunjukkan rasa hormat yang sangat besar, seperti kepada seseorang yang sangat dihormati, atau ketika meminta maaf dengan sangat tulus. Dalam budaya Jepang, meminta maaf tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi juga ditunjukkan melalui kedalaman cara mengangkat tangan, yaitu ojigi.
Ada juga bentuk permintaan maaf yang sangat ekstrem dan jarang dilakukan di zaman modern, yaitu dogeza. Orang tersebut berlutut dan menundukkan kepala hingga hampir menyentuh lantai. Dogeza menunjukkan rasa penyesalan atau permohonan maaf yang sangat serius. Sekarang, bentuk ini lebih sering muncul dalam drama atau situasi tradisional. Yang menarik dari ojigi adalah cara kata dan gerakan berjalan bersamaan. Orang Jepang biasanya mengucapkan salam seperti “ohayou gozaimasu” atau “arigatou gozaimasu” sambil membungkuk. Gerakan dan ucapan dilakukan hampir bersamaan, tetapi bisa sedikit berbeda tergantung pada tingkat formalitas situasi tersebut. Jadi, komunikasi di Jepang tidak hanya melalui kata-kata, tapi juga melalui tindakan fisik. Sekarang bayangkan: kalau budaya ojigi diterapkan di Indonesia, menurutmu akan terasa aneh atau justru membuat interaksi lebih sopan? Mungkin sebenarnya kita juga punya cara sendiri, seperti menunduk atau mencium tangan orang tua? Ojigi mengajarkan bahwa cara menunjukkan rasa hormat bisa dengan gerakan sederhana. Sebuah kesombongan kecil ternyata bisa menyampaikan pesan yang sangat besar.
Source : Yevira Andin